Job Vacancy: Staff in Knowledge Management & Research Centre

JOB VACANCY

Firm profile

Deloitte Indonesia is one of the Big Four professional services in Indonesia. Deloitte provides audit, tax, and financial advisory services to public and private clients spanning multiple industries. With a globally connected network of member firms in more than 150 countries, Deloitte brings world-class capabilities and high-quality service to clients, delivering the insights they need to address their most complex business challenges. Deloitte’s more than 225,000 professionals are committed to making an impact that matters. Deloitte serves 4 out of 5 Fortune Global 500® companies.

Our practices is growing fast, and in our continuing effort to be the preferred service provider in Indonesia, we offer you the opportunity to join our team as:

Staff in Knowledge Management & Research Centre

Requirements:

· Assist in providing information & research services related to the economic indicators, government regulations, industry information, etc

· Familiarity with using online research database and intranet/internet

· Able to monitor & update information with the current government regulations and news on related industries

· Perform data entry of government regulations into the intranet

· Able to create and organize print & electronic materials for quick retrieval

· Assist in preparation of internal training

Qualifications:

Female with S-1 degree Library & Information Science
Have 1-2 years of working experience in Library or Information & Research Services
Good command in English, both written and spoken

· Excellent with Microsoft Office (Word, Excel, PowerPoint)

Able to perform excellent research services to users

· Good communication skills and good relationship with the external institutions

· Good attitude, proactive, accurate, fast learner, highly motivated and good teamwork

· Able to work overtime if required

Please send your completed application (application letter, CV & certificate) not later than 15 January 2016 to email: djuliah@deloitte.com

Only short-listed candidates will be notified.

Source: Referensi Maya Group

Resensi buku “Perpustakaan untuk Rakyat: Dialog Anak dan Bapak”

Judul Buku = Perpustakaan untuk Rakyat : Dialog Anak dan Bapak
Pengarang = Ratih Rahmawati dan Blasius Sudarsono
Penerbit = Sagung Seto, Jakarta
Tahun Terbit = 2012
Tebal Buku = 164 halaman

PUSAKA BAGI PERPUSTAKAAN DAN TAMAN BACA MASYARAKAT
————————————————–
Buku ini mencoba menyadarkan kita (kembali) bahwa rakyat memiliki hak yang perlu ditunaikan oleh perpustakaan dan taman baca(an) masyarakat (TBM). Dalam Undang-Undang Dasar 1945 dijelaskan bahwa salah satu tujuan kemerdekaan Indonesia adalah dalam rangka “Mencerdaskan kehidupan bangsa”. Di sinilah perpustakaan dan TBM mengambil peran. Lebih jauh lagi, melalui penyediaan informasi dan membuka peluang sebesar-besarnya bagi rakyat untuk memperoleh pendidikan, perpustakaan dan TBM berperan dalam “Memajukan kesejahteraan umum”. Peran perpustakaan dan TBM Tersebut bahkan dijabarkan lebih jauh lagi melalui Undang-Undang Perpustakaan Nomor 43 Tahun 2007. Penulis berusaha memformulasikan suatu strategi untuk pemenuhan hak rakyat tersebut oleh perpustakaan dan TBM.

Dalam buku ini terdapat kata sambutan dari Kepala PDII-LIPI, Ir. Sri Hartinah, M.Si., dan pengantar dari Agus Rusmana yang memberikan gambaran umum isi buku. Layaknya sebuah drama, buku ini memiliki prolog dan pengenalan tokoh dibagian awal. Bagian berikutnya dimuai dengan dialog pertama antara sang bapak dan anaknya. Dalam dialog ini terjadi diskusi untuk memaknai perpustakaan dan TBM itu sendiri. Selain itu, dalam dialog ini pula turunnya mandat dari sang bapak kepada anaknya untuk turun langsung ke lapangan.

Lalu bagian berikutnya, ada laporan dari sang anak yang telah turun ke lapangan. Laporan ini membahas mengenai fenomena TBM di Daerah Istimewa Yogyakarta. Laporan ini pun dibahas oleh bapak dan anak dalam dialog kedua. Dalam dialog kedua ini juga dibahas mengenai konsep perpustakaan untuk rakyat. Di bagian berikutnya ada tulisan berjudul “Memaknai perpustakaan” yang ditulis oleh sang bapak. Dengan segala ilmu dan pengalamannya yang sudah banyak di dunia kepustakawanan Indonesia, sang bapak menjabarkan dengan begitu fasih mengenai fundamental perpustakaan, pembudayaan kegemaran membaca, Perpustakaan Nasional RI, dan profesi pustakawan. “Memaknai perpustakaan dilakukan dengan mencermati apa yang diamanatkan oleh UU 43, 2007” (Sudarsono, 2012: 118).

Lalu berikutnya adalah dialog ketiga. Dalam dialog ini, sang bapak dan anak mencoba membedah hal-hal apa saja yang mungkin diakukan oleh perpustakaan dan pustakawan agar dapat terciptanya perpustakaan untuk rakyat. Hasil dari dialog ketiga ini kemudian menjadi sebuah tulisan kolaborasi antara keduanya yang berjudul “Sinergi perpustakaan dan TBM”. Menurut mereka, sinergi antara perpustakaan dan TBM-lah yang diperlukan untuk merealisasikan konsep perpustakaan untuk rakyat dan tercapainya tujuan kemerdekaan “Mencerdaskan kehidupan bangsa”. Lebih lanjut lagi, dijelaskan pula bagaimana sinergi ini dapat berjalan. Sinergi ini akan berjalan baik apabila perpustakaan dan TBM memiliki kesadaran dan tujuan yang sama, yaitu menunaikan amanah UUD 45 dan UU 43 tahun 2007. Kemudian di bagian akhir buku ini ditutup dengan sebuah epilog mengenai perpustakaan untuk rakyat.

Penulis bereksperimentasi dalam penulisan buku ini. Gaya penulisan buku yang dibuat seperti sebuah drama membuat buku ini menarik. Akan tetapi sayangnya masih ditemukan kesalahan ejaan dan pengetikan dalam buku ini. Isi buku ini menawarkan sebuah konsep baru tentang terciptanya sistem layanan nasional perpustakaan dan langkah-langkah untuk merealisasikannya. Meskipun penulis sendiri mengakui bahwa konsep ini masihlah preliminer dan memerlukan penyempurnaan. Buku ini sangat direkomendasikan untuk dibaca oleh para pustakawan, calon pustakawan, peneliti dibiang perpustakaan dan informasi, maupun siapa saja yang berkaitan dengan dunia kepustakawanan dan pendidikan di Indonesia.

kolordwijo
Sumber: https://www.goodreads.com/review/show/859161326?utm_medium=api&utm_source=custom_widget

Sekilas info: Update di SLiMS Cendana [Januari 2016]

github slims senayan update

Kabar datang dari Senayan Developer Community (SDC) di awal tahun 2016 ini. Para pemegang kendali terhadap pengembangan perangkat lunak manajemen perpustakaan SLiMS (Senayan Library Management System) ini memberitahukan bahwa ada pembaruan (update) pada SLiMS versi 7 (Cendana). Kabar ini ditujukan untuk semua pengguna SLiMS Cendana untuk meng-update SLiMS Cendana yang mereka pakai dengan source dari https://github.com/slims/slims7_cendana

Ada satu perbaikan dari kelemahan sistem (bugs) pada update tersebut. Bugs yang diperbaiki yaitu penulisan log sistem. Jadi, untuk para pengguna SLiMS Cendana yang memerlukan perbaikan bugs pada pebulisan log sistem, silahkan mengunjungi source tersebut dan melakukan update pada server SLiMS Cendana masing-masing. Kolordwijo

Sumber: Informasi dari Bang Hendro Wicaksono

Apakah dapat disebut sebagai perpustakaan jika tidak memiliki keanggotaan?

“selamat malam, saya ingin bertanya mengenai perpustakaan. apakah dapat disebut perpustakaan jika tidak memiliki keanggotaan? dalama arti, perpustakaan khusus ini terbuka untuk umum namun mereka tidak membuat keanggotaan bagi pengujungnya. terima kasih – uciucai”

Demikianlah pertanyaan menarik dari salah seorang pengunjung blog ini. Meskipun sebenarnya saya masih perlu memperoleh tambahan penjelasan agar hal yang ditanyakan benar-benar jelas atau tuntas. Saya akan mencoba membahasnya pada kesempatan kali ini.

Pertanyaan diatas akan saya jawab dengan melihat definisi dari “Perpustakaan” itu sendiri. Apa itu perpustakaan? Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomer 43 Tahun 2007 Tentang Perpustakaan

“Perpustakaan adalah institusi pengelola koleksi karya tulis, karya cetak, dan/atau karya rekam secara profesional dengan sistem yang baku guna memenuhi kebutuhan pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi, dan rekreasi para pemustaka.”

“Perpustakaan khusus adalah perpustakaan yang diperuntukkan secara terbatas bagi pemustaka di lingkungan lembaga pemerintah, lembaga masyarakat, lembaga pendidikan keagamaan, rumah ibadah, atau organisasi lain.”

Definisi di atas memberikan kita gambaran mengenai unsur-unsur penting yang ada di perpustakaan, yaitu:
1. Pustakawan,
2. Koleksi, dan
3. Pemustaka (pengguna yang memanfaatkan perpustakaan).
Tanpa ada salah satu dari unsur-unsur ini maka menurut saya suatu institusi tidak dapat disebut sebagai perpustakaan. Perpustakaan tanpa ada pustakawan, lalu siapa yang akan mengelolanya dengan sistem baku dan profesional? Bukankah “Library is the librarian it’s self?” Apabila perpustakaan tanpa ada koleksi, lalu apa yang akan dikelola dan dimanfaatkan? Perpustakaan tanpa pemustaka atau orang-orang yang menggunakan/memanfaatkan perpustakaan, lalu siapa yang akan memanfaatkan perpustakaan? dan untuk apa perpustakaan itu ada? apa gunanya?

Apabila yang dimaksud dalam pertanyaan uciucai adalah institusi tersebut tidak memiliki pemustaka atau pengguna yang memanfaatkan perpustakaan tersebut maka saya katakan institusi itu bukanlah perpustakaan. Perpustakaan Khusus pun tetap harus memiliki pemustaka (meskipun ruang lingkup pemustaka terbatas/khusus). Apabila yang dimaksud dalam pertanyaan uciucai adalah institusi tersebut tidak memiliki MANAJEMEN/PENGELOLAAN KEANGGOTAAN maka jawabannya relatif.

Mengapa relatif? Kita harus melihat bagaimana cara koleksi itu dimanfaatkan oleh pengguna. Apakah koleksi tersebut dipinjamkan secara gratis, disewakan, atau dijual. Ketiga proses pemanfatan koleksi oleh pengguna menentukan akan menjadi apa institusi tersebut. Koleksi yang dimanfaatkan untuk dipinjam oleh pengguna secara gratis, kita dapat menyebut institusi itu sebagai perpustakaan. Lalu, koleksi yang dimanfaatkan untuk disewakan kepada pengguna, kita menyebut institusi itu sebagai kios penyewaan buku. Berdasarkan sejarahnya, kios-kios penyewaan buku ini pada awalnya muncul dari usaha warga keturunan Tionghoa pada masa kolonialisme untuk mendapatkan sumber informasi/menambah ilmu dan kini berkembang menjadi Taman Baca Masyarakat (Sudarsono dan Rahmawati, 2012). Terakhir, koleksi yang dimanfaatkan untuk dibeli, kita menyebut institusi itu sebagai toko buku.

Semoga sampai di sini penanya (uciucai) sudah dapat menyimpulkan dan mendapatkan jawaban. Saran saya, perpustakaan perlu memiliki sebuah mekanisme manajemen keanggotaan untuk mempermudah kegiatan perpustakaan. Dengan adanya manajemen keanggotaan, kita dapat mengetahui dan mengenal siapa saja para pemustaka kita. Bukan hanya untuk keperluan pelaporan tetapi juga untuk keperluan mendekatkan perpustakaan kepada penggunanya/pemustaka. Selain itu, manajemen keanggotaan dapat digunakan untuk pencatatan apabila pemustaka ingin meminjam koleksi untuk dibawa pulang. Perpustakaan pun dapat mengetahui tentang minat baca dari pengguna/pemustaka terhadap koleksi-koleksi tertentu. Hal ini bermanfaat salah satunya untuk pengembangan koleksi. Semoga jawaban dengan keterbatasan ilmu yang saya miliki ini bermanfaat. Apabila ada pendapat lain silahkan berikan komentar Anda di bawah ini. Wassalamu’alaikum
-Kolordwijo-

Referensi:
Indonesia. 2007. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan.
Sudarsono, Blasius dan Rahmawati, Ratih. 2012. Perpustakaan untuk Rakyat: Dialog Anak dan Bapak. Jakarta: Sagung Seto.